>

Kokolaka, Kampung Produksi Kolang-Kaling yang Geliatnya Sudah Lesu

  Selasa, 27 April 2021   Audrian Firhannusa
Aktivitas membuat kolang-kaling di Kampung Kokolaka. (AYOSEMARANG.COM/ Audrian Firhannusa)

MIJEN, AYOSEMARANG.COM - Di Jatisari, Mijen terdapat sebuah kampung kolang-kaling. Biasanya jika memasuki bulan ramadan kampung ini akan ramai dengan aktivitas warganya yang memproduksi kolang-kaling.

Kampung ini memang sejak tahun 2017 dipermak oleh Pemerintah Kota Semarang menjadi sebuah kampung tematik kolang-kaling atau yang disingkat dengan “Kokolaka”.

Awalnya kampung ini jadi sentra produksi kolang-kaling karena bertahun-tahun yang lalu masih banyak pohon aren, hal itu diungkapkan oleh Rupiase, salah seorang pembuat kolang-kaling. Namun lambat laun, karena banyak yang produksi kolang-kaling, populasi pohon aren menipis.

“Akhirnya kami beli kolang-kaling dalam bentuk jadi di Wonosobo, Temanggung, dan Pekalongan,” ujarnya pada Selasa, 27 April 2021.

AYO BACA : Resep dan Cara Mudah Membuat Ketupat Lebaran

Rupiase juga menambahkan jika dengan memesan kolang-kaling yang sudah jadi membuat pengolahan lebih efisien. Dia tidak masalah jika harganya memang sedikit mahal.

Kolang-kaling yang dibeli itu hadir secara sudah matang. Namun saat tiba di Jatisari, tetap harus direndam dan digepengkan sebelum diedarkan ke pembeli.

Setiap kilogramnya kolang-kaling dihargai sebanyak Rp 10.000. Biasanya pedagang membeli bukan dalam bentuk kiloan lagi, tapi karung.

Bertahun-tahun lalu, jumlah pembuat kolang-kaling di kampung ini cukup banyak meskipun produksinya di saat bulan Ramadan saja. Tetapi lambat laun jumlahnya menipis. Kalau Rupiase bilang barangkali minatnya sudah berkurang.

AYO BACA : Rekomendasi Menu Favorit Jika Berkunjung ke Angkringan Kampung Jawi di Bulan Ramadan

Salah seorang pembuat kolang-kaling yang masih produksi dengan cara tradisional adalah Royan. Dia sudah melakoni profesi ini sejak tahun ’90-an.

“Saya lebih percaya kualitasnya membuat sendiri dari buah aren,” terang Royan.

Royan membuat kolang-kaling di halaman belakang dibantu istri dan saudaranya. Tahun ini, Royan mengungkapkan jika tidak seperti tahun sebelumnya. Alhasil, saat ditemui Royan sedang tidak produksi.

“Saya buat awal-awal Ramadan saja. Soalnya pesanan tidak seperti kemarin,” tambahnya.

Kolang-kaling ini juga diolah menjadi beberapa olahan makanan oleh warga. Dwi Sayekti Kandarini ketua UMKM Gerai Kopimimi membeberkan beberapa produk olahanya seperti kolang-kaling menjadi tahu bakso, keripik dan manisan.

“Warga sudah saling memberdayakan tapi sayangnya ada pandemi jadi terhalang,” sambungnya.

Di Kampung Kokolaka ini sebetulnya yang ditonjolkan tidak hanya sentra produksi kolang-kaling saja. Tapi juga beragam wisata lain seperti bumi perkemahan, Homestay, dan River Tubing. Namun semenjak pandemi semua konsep wisata itu makin memudar dan tidak terkelola dengan baik.

AYO BACA : Eksistensi Bubur Tujuh Rupa di Saat Ramadan, Banyak Dicari Cocok untuk Buka Puasa


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar